“aku itu makhluk sosial”

          manusia itu adalah makhluk sosial. Seorang ahli filsafat Aristoteles mengemukakan pendapat nya bahwa manusia itu adalah Zoon politicon yang berarti bahwa manusia itu adalah makhluk yg dikodratkan memerlukan orang lain atau hidup bermasyarakat.  dengan kata lain bahwa manusia itu tidak bisa hidup sendiri, manusia membutuhkan orang lain untuk menjalani kehidupan. setiap manusia di ciptakan di bumi  memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing  yang saling melengkapi. Tidak ada manusia yang bisa melakukan semua aktivitas sendiri. seorang raja sekali pun ia pasti membutuhkan bantuan para pembantu nya dalam menyelesai masalah kerajaan.
            Islam pun mengajarkan kita untuk senantiasa bersosialisasi dalam masyarakat. seorang muslim yang baik senantiasa berlaku baik dengan saudara nya, saling memberi, saling membantu, bagaimana hubungan sesama manusia itu baik. Allah swt menjelaskan dalam firman nya Q.S al anfal ayat 72
                  “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”
        manusia tanpa orang lain ia akan rapuh, seorang laki-laki yang kuat sekalipun, ia pasti membutuhkan seorang perempuan yang menemani nya. seorang anak kecil membutuhkan kedua orang tua nya dalam mendidik dan membentuk karakter dan sifat nya. ketika penciptaan manusia pertama Adam as hidup bersosialisasi sudah terjadi. Islam memandang hidup bersosialisasi itu adalah hal yang sangat penting dan di utamakan. Rasulullah saw telah menjelaskan dalam sabda nya
                    ” tidak lah beriman seorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”
ketika rasulullah saw berhijrah ke madinah, rasa persaudaraan dan sosial terlihat dengan sangat jelas, bagaimana masyarakat madinah menyambut dengan gembira, membangtu dan melindungi rasulullah saw, memberikan segala kebutuhan tempat istirahat, rumah dll. kehidupan sosial bermasyarakat memang benar benar telah terbentuk dengan sangat baik. anjuran untuk senantiasa peduli dengan  sesama mengajak kepada kebaikan menjadi salah satu tugas pokok seorang mukmin. islam mengajarkan bagaimana manusia bisa hidup bersosialisasi dalam masyarakat dengan baik.
 APALAGI MANUSIA TANPA TUHAN (ALLAH SWT) hidup menjadi susah, mati pun seakan akan tak mau karena takut
Advertisements

Keadilan dan Peran Media Informasi

Allah swt berfirman dalam surat An Nisa’ ayat 83
Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).

Media informasi terkadang membuat membentuk iklim yang menakutkan bagi hakim ataupun opini publik, mengubah konsep-konsep , dan mempengaruhi keputusan yang adil. karena itu BERITA harus diperiksa kebenarannya dan jangan menakwilkan atau MENGEMBANGKAN sendiri. ini adalah PERINTAH yang jelas bagi Umat ISLAM dizaman sekarang agar mereka memeriksa dan mengecek semua berita yang disiarkan media informasi

Menikah (memilih menurut islam)

cincinAbu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda : perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu harta, keturunan, kecantikan dan agamanya. Dapatkan lah wanita yang taat beragama, maka engakau akan bahagia (muttafaq alaih).

Seorang penjaga kebun, Mubarak yang terkenal dengan kejujuran dan keluasan ilmu agamanya. Pada suatu hari majikan mubarak bertanya kepada mubarak, “hai mubarak saya sedang mencari seorang laki-laki yang akan aku nikahkan dengan putri ku, menurut mu laki-laki seperti apa yang cocok dan saya utamakan? ” mubarak pun menjawah “wahai tuan ku Rasulullah saw bersabda nikahi lah perempuan karena empat hal, yaitu harta, keturunan, kecantikan dan agama nya. kemudian lanjut mubarak “Seorang yahudi menikahkan karena melihat kekayaan nya, seorang nashrani menikahkan karena kekayaan nya dan bangsa quraish menikahkan karena melihat nasab atau keturunan nya, dan seorang muslim menikahkan karena agamanya. nikahkan lah dengan seorang yang baik agama nya. ternyata majikan nya Mubarak memilih menikahkan putrinya dengan mubarak. tak ada laki-laki yang saya kenal saat ini yang paling baik agamanya melebihi dirimu Mubarak, maka menikahlah dengan putri ku, kata majikan nya. Alhamdulillah dengan pernikahan itu lahir lah seorang ulama besar Abdullah bin Mubarak salah satu guru besar dari Imam Al Ghazali

seorang yang memiliki visi akhirat tujuan hidup nya akhirat maka persoalan dunia seperti kecantikan, harta, dan nasab tidak akan menjadi periritas utama, karena yakin bahwasanya pernikahan yang didasarkan agama dan ketakwaan akan berbuah kenyamanan dan ketentraman hati. kecantikan tidak akan selamanya tetap cantik, harta tidak akan selamanya tersedia, keturunan tidak selamanya baik, tetapi agama senantiasa membawa kita kepada Allah swt dan surganya yang tidak hanya di dunia tapi juga sampai ke akhirat.

Wallahu’alam

Sabar itu yang Utama

allah-bersama-orang-yang-sabarsunyi, sepi, kegelisahan hati senantiasa menghiasi setiap detik-detik kehidupan
ada semacam keraguan dalam diri, akankah mampu untuk menjalani perjalanan dunia
kesedihan, kecewa pada diri sendiri selalu terbayang dalam diri
begitu berat nya perjuangan untuk menjaga keistiqamahan pada diri

Allah swt berfirman dalam surat Muhammad ayat 31

“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-banar berjihad dan bersabar diantara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu.”

Allah swt sudah menjelaskan akan penting kesabaran dalam setiap ujian kehidupan yang kita jalani. kesulitan, kepayahan dalam hidup jangan lah dipandang sebagai suatu bentuk kemurkaan Allah swt kepada kita, tapi pandanglah ia sebagai bentuk kasih sayang Allah swt kepada kita. Allah swt ingin menaikkan derajat keimanan kita dan mengajarkan kita melalui ujian dan rintangan yang kita hadapi

Allah swt berfirman dalam surat Al Ankabut ayat 2-3

Apakah manusia itu mengira bahawa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan; “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Allah swt memberikan ujian berdasarkan tingkat keimanan seseorang, Allah swt tidak memberikan ujian dan cobaan kepada manusia kecuali Allah swt maha mengetahui kadar ketakwaan dan kemampuan nya untuk bertahan melewati setiap ujian dan cobaan yang dihadapi, sehingga akan jelas kadar keimanan dan ketakwaan seseorang. Hanya saja sebagian besar manusia memandang ujian sebagai sesuatu yang tidak mampu ia pikul, sehingga kita temukan orang yang kalah dengan ujian, putus asa, kecewa, hingga ke batas yang sudah melanggar tuntunan islam.

Bangkitlah saudara, jalan ini masih panjang
Perbaiki lah hubungan mu dengan Allah swt, cintai lah Allah swt dengan sebenar-benar cinta
Bangkitkan semangat perjuangan, tegarkan langkah mu, tajamkan pandangan mu, Tajamkan pikiran mu
Sungguh balasan surga Allah swt itu yang utama

Wallahu’alam bis showab

Fatwa kontemporer Dr.Yusuf Qardhawi (Bunga Bank)

BUNGA BANK

Pertanyaan:

Saya seorang pegawai golongan menengah, sebagian penghasilan saya tabungkan dan saya mendapatkan bunga. Apakah dibenarkan saya mengambil bunga itu? Karena  saya  tahu  Syekh  Syaltut memperbolehkan mengambil bunga ini.

Saya pernah bertanya kepada sebagian ulama, di antara mereka ada yang memperbolehkannya dan ada yang  melarangnya.  Perlu saya  sampaikan  pula bahwa saya biasanya mengeluarkan zakat uang saya, tetapi bunga  bank  yang  saya  peroleh  melebihi zakat yang saya keluarkan.

Jika bunga uang itu tidak boleh saya ambil, maka apakah yang harus saya lakukan?

Jawaban:

Sesungguhnya bunga yang diambil oleh penabung di bank adalah riba yang diharamkan, karena riba adalah semua tambahan yang disyaratkan atas pokok  harta.  Artinya,  apa  yang  diambil seseorang   tanpa   melalui   usaha  perdagangan  dan  tanpa berpayah-payah sebagai tambahan atas  pokok  hartanya,  maka yang  demikian  itu  termasuk  riba.  Dalam  hal  ini  Allah berfirman:


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Antara lain Baqarah: 278-279)


Yang dimaksud dengan tobat di  sini  ialah  seseorang  tetap pada  pokok  hartanya,  dan  berprinsip  bahwa tambahan yang timbul darinya adalah  riba.  Bunga-bunga  sebagai  tambahan atas  pokok  harta  yang diperoleh tanpa melalui persekutuan atas perkongsian, mudharakah, atau bentuk-bentuk persekutuan dagang lainnnya, adalah riba yang diharamkan. Sedangkan guru saya  Syekh  Syaltut   sepengetahuan   saya   tidak   pernah memperbolehkan  bunga  riba, hanya beliau pernah mengatakan: “Bila keadaan darurat –baik darurat individu maupun darurat ijtima’iyah–  maka  bolehlah dipungut bunga itu.” Dalam hal ini  beliau   memperluas   makna   darurat   melebihi   yang semestinya,  dan  perluasan  beliau  ini tidak saya setujui. Yang pernah beliau fatwakan  juga  ialah  menabung  di  bank sebagai sesuatu yang lain dari bunga bank. Namun, saya tetap tidak setuju dengan pendapat ini.

Islam tidak memperbolehkan seseorang menaruh pokok  hartanya dengan  hanya  mengambil  keuntungan.  Apabila dia melakukan perkongsian,  dia  wajib  memperoleh  keuntungan   begitupun kerugiannya.  Kalau  keuntungannya sedikit, maka dia berbagi keuntungan sedikit, demikian juga jika memperoleh keuntungan yang banyak. Dan jika tidak mendapatkan keuntungan, dia juga harus menanggung kerugiannya. Inilah makna persekutuan  yang sama-sama memikul tanggung jawab.

Perbandingan  perolehan  keuntungan  yang tidak wajar antara pemilik  modal   dengan   pengelola   –misalnya   pengelola memperoleh  keuntungan  sebesar  80%-90%  sedangkan  pemilik modal  hanya  lima  atau  enam  persen–  atau   terlepasnya tanggung  jawab  pemilik  modal  ketika  pengelola mengalami kerugian, maka  cara  seperti  ini  menyimpang  dari  sistem ekonomi  Islam  meskipun  Syeh  Syaltut  pernah  memfatwakan kebolehannya. Semoga Allah memberi rahmat dan ampunan kepada beliau.

Maka pertanyaan apakah dibolehkan mengambil bunga bank, saya jawab tidak boleh. Tidak halal baginya dan  tidak  boleh  ia mengambil   bunga  bank,  serta  tidaklah  memadai  jika  ia menzakati harta yang ia simpan di bank.

Kemudian langkah apa yang harus kita lakukan jika menghadapi kasus demikian?

Jawaban saya: segala sesuatu yang haram tidak boleh dimiliki dan wajib  disedekahkan  sebagaimana  dikatakan  para  ulama muhaqqiq  (ahli tahqiq). Sedangkan sebagian ulama yang wara’ (sangat berhati-hati) berpendapat bahwa uang itu tidak boleh diambil  meskipun untuk disedekahkan, ia harus membiarkannya atau membuangnya ke laut.  Dengan  alasan,  seseorang  tidak boleh  bersedekah dengan sesuatu yang jelek. Tetapi pendapat ini bertentangan  dengan  kaidah  syar’iyyah  yang  melarang menyia-nyiakan harta dan tidak memanfaatkannya.

Harta  itu  bolehlah  diambil  dan disedekahkan kepada fakir miskin, atau disalurkan  pada  proyek-proyek  kebaikan  atau lainnya  yang  oleh  si  penabung  dipandang bermanfaat bagi kepentingan Islam dan kaum muslimin. Karena harta haram  itu –sebagaimana  saya katakan– bukanlah milik seseorang, uang itu bukan milik  bank  atau  milik  penabung,  tetapi  milik kemaslahatan umum.

Demikianlah  keadaan  harta yang haram, tidak ada manfaatnya dizakati, karena zakat itu tidak dapat  mensucikannya.  Yang dapat  mensucikan  harta ialah mengeluarkan sebagian darinya untuk zakat. Karena itulah Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak menerima sedekah dari hasil korupsi.” (HR Muslim)

Allah tidak menerima sedekah dari harta semacam ini,  karena harta  tersebut  bukan  milik  orang yang memegangnya tetapi milik umum yang dikorupsi.

Oleh sebab itu, janganlah  seseorang  mengambil  bunga  bank untuk  kepentingan  dirinya,  dan  jangan pula membiarkannya menjadi milik bank sehingga dimanfaatkan karena hal ini akan memperkuat posisi bank dalam bermuamalat secara riba. Tetapi hendaklah   ia   mengambilnya   dan   menggunakannya    pada jalan-jalan kebaikan.

Sebagian   orang   ada   yang   mengemukakan   alasan  bahwa sesungguhnya seseorang yang  menyõmpan  uang  di  bank  juga memiliki  risiko  kerugian  jika bank itu mengalami kerugian dan  pailit,  misalnya  karena  sebab  tertentu.  Maka  saya katakan bahwa kerugian seperti itu tidak membatalkan kaidah, walaupun  si  penabung  mengalami   kerugian   akibat   dari kepailitan   atau  kebangkrutan  tersebut,  karena  hal  ini menyimpang  dari  kaidah  yang   telah   ditetapkan.   Sebab tiap-tiap  kaidah ada penyimpangannya, dan hukum-hukum dalam syariat Ilahi  -demikian  juga  dalam  undang-undang  buatan manusia–  tidak  boleh  disandarkan  kepada perkara-perkara yang ganjil dan jarang terjadi. Semua  ulama  telah  sepakat bahwa  sesuatu  yang  jarang  terjadi  tidak dapat dijadikan sebagai  sandaran  hukum,  dan  sesuatu  yang  lebih  sering terjadi  dihukumi sebagai hukum keseluruhan. Oleh karenanya, kejadian tertentu tidak dapat membatalkan  kaidah  kulliyyah (kaidah umum).

Menurut  kaidah  umum,  orang  yang  menabung uang (di bank) dengan  jalan  riba  hanya  mendapatkan   keuntungan   tanpa memiliki  risiko kerugian. Apabila sekali waktu ia mengalami kerugian, maka  hal  itu  merupakan  suatu  keganjilan  atau penyimpangan  dari  kondisi  normal, dan keganjilan tersebut tidak dapat dijadikan sandaran hukum.

Boleh  jadi  saudara  penanya  berkata,  “Tetapi  bank  juga mengolah  uang  para  nasabah, maka mengapa saya tidak boleh mengambil keuntungannya?”

Betul  bahwa  bank  memperdagangkan  uang  tersebut,  tetapi apakah  sang  nasabah  ikut  melakukan aktivitas dagang itu. Sudah tentu tidak. Kalau nasabah  bersekutu  atau  berkongsi dengan  pihak  bank  sejak  semula, maka akadnya adalah akad berkongsi, dan  sebagai  konsekuensinya  nasabah  akan  ikut menanggung  apabila  bank  mengalami  kerugian.  Tetapi pada kenyataannya,  pada  saat  bank  mengalami   kerugian   atau bangkrut,  maka  para  penabung  menuntut  dan  meminta uang mereka, dan pihak  bank  pun  tidak  mengingkarinya.  Bahkan kadang-kadang   pihak   bank   mengembalikan  uang  simpanan tersebut  dengan  pembagian  yang   adil   (seimbang)   jika berjumlah banyak, atau diberikannya sekaligus jika berjumlah sedikit.

Bagaimanapun juga sang nasabah tidaklah  menganggap  dirinya bertanggung  jawab  atas  kerugian itu dan tidak pula merasa bersekutu  dalam  kerugian  bank  tersebut,  bahkan   mereka menuntut uangnya secara utuh tanpa kurang sedikit pun.

Catatan kaki:

1 Hakim mengatakan bahwa hadits ini sahih isnadnya. ^
2 Tirmidzi mensahihkannya. Hadits ini diriwayatkan pula  oleh Ibnu Hibban dan Hakim, dan mereka mensahihkannya. ^

Fatwa kontemporer Dr.Yusuf Qardhawi (HUKUM BEKERJA DI BANK)

HUKUM BEKERJA DI BANK

Pertanyaan:

Saya tamatan sebuah akademi perdagangan yang telah  berusaha mencari  pekerjaan  tetapi  tidak  mendapatkannya kecuali di salah satu bank. Padahal, saya  tahu  bahwa  bank  melakukan praktek  riba.  Saya  juga tahu bahwa agama melaknat penulis riba. Bagaimanakah sikap  saya  terhadap  tawaran  pekerjaan ini?

Jawaban:

Sistem ekonomi dalam Islam ditegakkan  pada  asas  memerangi riba   dan  menganggapnya  sebagai  dosa  besar  yang  dapat menghapuskan berkah dari  individu  dan  masyarakat,  bahkan dapat mendatangkan bencana di dunia dan di akhirat.

Hal  ini  telah  disinyalir di dalam Al Qur’an dan As Sunnah serta telah disepakati oleh umat. Cukuplah kiranya jika Anda membaca firman Allah Ta’ala berikut ini:

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Al Baqarah: 276)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketabuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu …” (Al Baqarah: 278-279)

Mengenai hal ini Rasulullah saw. bersabda

“Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, berarti mereka telah menyediakan diri mereka untuk disiksa oleh Allah.” (HR Hakim)1

Dalam peraturan dan tuntunannya Islam menyuruh umatnya  agar memerangi  kemaksiatan.  Apabila  tidak  sanggup, minimal ia harus menahan diri agar perkataan maupun perbuatannya  tidak terlibat   dalam  kemaksiatan   itu.   Karena   itu   Islam mengharamkan  semua  bentuk  kerja  sama   atas   dosa   dan permusuhan,   dan  menganggap  setiap  orang  yang  membantu kemaksiatan bersekutu dalam dosanya bersama pelakunya,  baik pertolongan   itu   dalam  bentuk  moril  ataupun  materiil, perbuatan ataupun  perkataan.  Dalam  sebuah  hadits  hasan, Rasulullah saw. bersabda mengenai kejahatan pembunuhan:

“Kalau penduduk langit dan penduduk bumi bersekutu dalam membunuh seorang mukmin, niscaya Allah akan membenamkan mereka dalam neraka.” (HR Tirmidzi)

Sedangkan tentang khamar beliau saw. bersabda:

“Allah melaknat khamar, peminumnya, penuangnya, pemerahnya, yang meminta diperahkan, pembawanya, dan yang dibawakannya.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

Demikian juga terhadap praktek suap-menyuap:

“Rasulullah saw. melaknat orang yang menyuap, yangmenerima suap, dan yang menjadi perantaranya.” (HR Ibnu Hibban dan Hakim)

Kemudian mengenai riba, Jabir bin Abdillah r.a. meriwayatkan:

“Rasulullah melaknat pemakan riba, yang memberimakan dengan hasil riba, dan dua orangyang menjadi saksinya.” Dan beliau bersabda: “Mereka itu sama.” (HR Muslim)

Ibnu Mas’ud meriwayatkan:

“Rasulullah saw. melaknat orang yang makan riba dan yang memberi makan dari hasil riba, dua orang saksinya, dan penulisnya.” (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)2

Sementara itu, dalam riwayat lain disebutkan:

“Orang yang makan riba, orang yang memben makan dengan riba, dan dua orang saksinya –jika mereka mengetahui hal itu– maka mereka itu dilaknat lewat lisan Nabi Muhammad saw. hingga han kiamat.” (HR Nasa’i)

Hadits-hadits sahih yang sharih itulah  yang  menyiksa  hati orang-orang  Islam  yang  bekerja  di bank-bank atau syirkah (persekutuan)   yang   aktivitasnya   tidak    lepas    dari tulis-menulis dan bunga riba. Namun perlu diperhatikan bahwa masalah riba ini tidak hanya berkaitan dengan  pegawai  bank atau  penulisnya pada berbagai syirkah, tetapi hal ini sudah menyusup ke dalam sistem ekonomi  kita  dan  semua  kegiatan yang berhubungan dengan keuangan, sehingga merupakan bencana umum sebagaimana yang diperingatkan Rasulullah saw.:

“Sungguh akan datang pada manusia suatu masa yang pada waktu itu tidak tersisa seorangpun melainkan akan makan riba; barangsiapa yang tidak memakannya maka ia akan terkena debunya.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

Kondisi seperti ini tidak dapat diubah dan diperbaiki  hanya dengan  melarang  seseorang  bekerja di bank atau perusahaan yang mempraktekkan riba.  Tetapi  kerusakan  sistem  ekonomi yang  disebabkan  ulah  golongan  kapitalis  ini hanya dapat diubah oleh  sikap  seluruh  bangsa  dan  masyarakat  Islam. Perubahan  itu  tentu  saja harus diusahakan secara bertahap dan  perlahan-lahan  sehingga  tidak  menimbulkan  guncangan perekonomian  yang dapat menimbulkan bencana pada negara dan bangsa. Islam sendiri tidak melarang umatnya untuk melakukan perubahan    secara   bertahap   dalam   memecahkan   setiap permasalahan yang pelik.  Cara  ini  pernah  ditempuh  Islam ketika  mulai  mengharamkan riba, khamar, dan lainnya. Dalam hal ini yang terpenting adalah tekad  dan  kemauan  bersama, apabila  tekad  itu  telah bulat maka jalan pun akan terbuka lebar.

Setiap  muslim  yang  mempunyai  kepedulian  akan  hal   ini hendaklah  bekerja  dengan  hatinya,  lisannya,  dan segenap kemampuannya melalui berbagai wasilah  (sarana)  yang  tepat untuk   mengembangkan   sistem  perekonomian  kita  sendiri, sehingga  sesuai  dengan  ajaran   Islam.   Sebagai   contoh perbandingan,  di  dunia ini  terdapat beberapa negara yang tidak memberlakukan sistem riba, yaitu mereka yang  berpaham sosialis.

Di  sisi lain, apabila kita melarang semua muslim bekerja di bank, maka dunia perbankan dan sejenisnya akan dikuasai oleh orang-orang  nonmuslim  seperti  Yahudi dan sebagainya. Pada akhirnya, negara-negara Islam akan dikuasai mereka.

Terlepas dari semua itu,  perlu  juga  diingat  bahwa  tidak semua  pekerjaan  yang  berhubungan  dengan  dunia perbankan tergolong riba. Ada diantaranya yang halal dan baik, seperti kegiatan  perpialangan,  penitipan,  dan  sebagainya; bahkan sedikit pekerjaan di sana yang termasuk haram.  Oleh  karena itu,  tidak  mengapalah  seorang  muslim  menerima pekerjaan tersebut –meskipun hatinya tidak rela– dengan harapan tata perekonomian  akan  mengalami  perubahan menuju kondisi yang diridhai agama  dan  hatinya.  Hanya  saja,  dalam  hal  ini hendaklah  ia  rnelaksanakan tugasnya dengan baik, hendaklah menunaikan kewajiban terhadap dirinya dan  Rabb-nya  beserta umatnya sambil menantikan pahala atas kebaikan niatnya:

“Sesungguhnya setiap orang memperoleh apa yang ia niatkan.” (HR Bukhari)

Sebelum  saya  tutup  fatwa  ini  janganlah  kita  melupakan kebutuhan  hidup  yang  oleh  para fuqaha diistilahkan telah mencapai tingkatan darurat. Kondisi inilah yang mengharuskan saudara  penanya  untuk  menerima pekerjaan tersebut sebagai sarana mencari penghidupan dan  rezeki,  sebagaimana  firman Allah SWT:

 “… Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Baqarah: 173}

Ukhuwah

ukhuwah persaudaraan itu diawali dari ta,aruf (saling mengenal), tafahhum (saling memahami) dan ta’awun (saling sepenanggungan)

manfaat nya ukhuwah
1. Saling mencintai karena allah swt (salah satu dari 7 kelompok yang akan mendapat naungan dari allah swt di akhirat nanti)
2. Tolong menolong dalam ketaatan
3. Mensucikan kebenaran dan bersabar
4. Persamaan dan kesetaraan (q.s al Hujurat :13)
5. Saling menghormati

manfaat ukhuwah ketika di akhirat nanti
1. mendapat naungan dari allah swt
2. mendapat pertolongan dari allah swt
3. mendapat surga nya allah swt

tingkatan ukhuwah yang paling rendah hati kita tenang dengan saudara kita (husnudzon) dan yang paling tertinggi adalah itsar mendahulukan mengutamakan saudaranya dibandingkan dengan dirinya sendiri walaupun dirinya sangat membutuhkan.
Q.S at taubah 128
Q.S Al Hasyr 8-9

cara menjaga Ukhuwah
1. Ungkapkan rasa cinta mu kepada saudara mu
2. Saling memberi hadiah
3. saling bersedekah
4. meninggalkan dosa

Orang yang Tidak Meminta-Minta Lebih Berhak Menerima Zakat

Pada umum nya orang beranggapan bahwa orang yang fakir dan miskin itu adalah orang yang berpura pura tidak mempunyai pekerjaan dan meminta-minta, menjadi seorang pengemis di pinggir jalan menengadahkan tangannya ke atas meminta-minta. Akan tetapi Rasululah saw menjelaskan dalam hadits beliau

Rasulullah saw bersabda “Tidak lah miskin itu orang yang ditolak karena sebuah atau dua buah tamar, juga tidak karena sesuap atau dua suap, tetapi orang miskin ialah orang yang menahan diri dari meminta-minta (H.R Ahmad)

Allah swt menyuruh kepada kita untuk senantiasa berusaha dengan kerja keras, mencari penghidupan, mencari karunia allah swt berupa rezeki yang telah allah swt janjikan kepada umatnya. bukan lah dengan cara mengharapkan belas kasihan orang lain tanpa adanya usaha untuk bekerja. Salah satu ketentuan orang yang lebih berhak adalah seorang yang telah bekerja dengan keras berharap karunia dan rezeki yang allah swt berikan, akan tetapi tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-harinya. itu lah orang yang berhak menerima zakat dibandingkan dengan orang yang meminta-minta tanpa adanya usaha dan kerja keras mencari pekerjaan.

Allah swt berfirman

“..mereka tidak meminta-minta kepada orang secara mendesak ..” (Q.S Al Baqarah : 273)

Imam Hasan Al Bashri pernah ditanya tentang orang yang memiliki rumah dan pembantu, apakah ia berhak  menerima zakat? ‘ Beliau menjawab ia berhak menerimanya jika memerlukannya dan tidak ada dosa diatasnya.

dalam mazhab Imam syafi’i mengatakan , Jika ia memiliki kebun tetapi penghasilan nya tidak mencukupi, maka ia adalah fakir dan miskin. karena nya ia berhak mendapatkan zakat secukupnya dan tidak dipaksa harus menjual kebunnya.

Zakat tidak dimaksudkan kepada orang yang tidak mempunyai sesuatu apapun, tetapi juga diberikan orang yang memilki sebagain keperluannya tetapi tidak mencukupi semua kebutuhannya.

lalu, bagaimana dengan istilah seorang yang dengan kekayaan yang melimpah tetapi tidak pernah merasa cukup dengan apa yang dimiliki, apakah ini termasuk ke dalam golongan orang yang berhak menerima zakat..? seseorang yang haus akan kenikmatan dunia, dia tidak akan pernah puas walaupun gunung emas diberikan kepada nya, ibarat meminum air garam, semakin diminum akan semakin membuat kita semakin haus. Orang seperti ini tidak pantas menerima zakat..

Ligasi dan Transformasi Bakteri

Ligasi adalah proses penyambungan antara satu fragmen DNA dengan fragmen DNA lainnya. DNA yang akan disisipkan biasanya disambungkan dengan vektor pengklonan. Dalam proses penggabungan (ligasi) antara dua molekul DNA memerlukan enzim sebagai perekat. Ada dua enzim yang biasa digunakan untuk menggabungkan antara dua molekul DNA, yaitu 1) enzim yang dihasilkan oleh bakteri E. coli yang telah terinfeksi virus T4, oleh karena itu enzim tersebut dinamakan T4 DNA ligase, 2) enzim yang dihasilkan oleh E. coli sendiri disebut dengan E. coli DNA ligase. Kedua enzim tersebut mempunyai fungsi yang sama yaitu mensintesis pembentukan ikatan fosfodiester yang menghubungkan nukleotida di sebelahnya. Perbedaannya adalah pada kofaktor yang membantu reaksi pembentukan ikatan tersebut. Kofaktor untuk T4 DNA ligase adalah ATP, sedangkan untuk E. coli DNA ligase adalah NAD+ (Pasternak&Bernard 2003). Pada praktikum kali ini enzim ligase yang digunakan adalah T4 DNA Ligase.

            Transformasi DNA merupakan salah satu metode untuk memasukkan DNA ke dalam sel bakteri. Metode transformasi ini pertama kali dikembangkan untuk memindahkan sifat-sifat genetika yang membawa kenyataan bahwa DNA adalah bahan genetika. Meskipun transformasi telah dieksploitasi untuk mempelajari pautan gen pada berbagai organisme, metode ini sekarang secara luas dipakai untuk mentransfer plasmid-plasmid kecil dari satu galur bakteri ke galur lainnya. Prinsip dari transformasi adalah dengan ekstraksi DNA dari sel donor, kemudian dicampur dengan sel resipien yang telah dibuat rentan terhadap masuknya molekul DNA melalui pori atau saluran dalam dinding dan membran sel (Lodishet al 2000).

Setiap sel termasuk bakteri memiliki sistem pertahanan diri terhadap benda asing termasuk DNA. Jika sel bakteri menemukan adanya DNA asing, maka enzim restriksi sebagai penjaga benteng akan memotong-motong DNA tersebut hingga menjadi pendek dan tak berfungsi lagi. Agar DNA plasmid yang ditransformasi tidak dicincang oleh enzim restriksi, maka ia harus memiliki bagian yang dinamakan ori atau origin of replication yang dikenali oleh bakteri yang bersangkutan. Ori ini berfungsi mengelabui bakteri agar tidak menganggapnya sebagai DNA asing. Ori juga merupakan signal agar bakteri tersebut melakukan replikasi DNA plasmid secara independen seiring dengan replikasi DNA genomnya(Wibowo 2002).

Untuk membedakan antara bakteri yang sudah dimasuki DNA plasmid dan yang tidak, umumnya digunakan  seleksi antibiotik. Umumnya bakteri tidak dapat hidup pada media yang mengandung antibiotik. Untuk itu pada DNA plasmid yang kita transformasikan harus ada gen penyandi antibiotik resisten agar bakteri hostnya menjadi tahan hidup di media yang mengandung antibiotik. Jadi, bakteri yang tidak berhasil disusupi oleh plasmid akan mati dengan sendirinya(Sambrook&Russel 2001).

Untuk membedakan antara bakteri yang plasmidnya memiliki insert atau tidak. Insert biasanya disisipkan di pertengahan gen lacZ yang merupakan penyandi enzim ß-galactosidase. Enzim ini dapat memecah substrat X-gal (suatu galaktosa yang dimodifikasi) menjadi galaktosa dan pre-chromophore 5-bromo-4-chloro-3-hydroxyindole, yang selanjutnya dioksidasi menjadi 5,5′-dibromo-4,4′-dichloro-indigo yang berwarna biru. Jika gen LacZinimasihutuh, maka koloni bakteri akan berwarna biru akibat pengaruh zat warna indigo yang dihasilkan. Tetapi jika insert berhasil disisipkan (diligasikan) dengan vektor, sehingga gen lacZ-nya akan terdisrupsi (rusak) dan ujung-ujungnya tidak mampu menghasilkan indigo yang berwarna biru, sehingga koloni bakteri akan berwarna putih. Jadi hanyakoloni putih yang tumbuh pada media yang mengandung antibiotik dan X-Gal saja yang kemungkinan mengandung gen yang kita transformasikan. Inilah yang dinamakan seleksi biru-putih (Sambrook&Russel 2001).

Berdasarkan hasil pengamatan, dapat dilihat bahwa pada keempat cawan petri dengan empat perlakuan yang berbeda, akan menunjukkan hasil yang berbeda pula. Kontrol positif (sel kompeten+LA) menunjukkan pertumbuhan koloni sel yang sangat banyak dan berwarna putih. Kontrol negatif (sel kompeten+LA+AMP) tidak menunjukkan adanya pertumbuhan koloni sel. Kontrol aktivitas X-Gal+IPTG(Sel+LA+IPTG+X-Gal) menunjukkan pertumbuhan koloni sel berwarna biru. Kontrol transformasi (hasil transformasi kelompok 5 yang terdiri dari sel kompeten hasil ligasi+LA+AMP+X-Gal+IPTG) menunjukkan semua koloni sel yang berwarna putih. Berdasarkan penjelasan literatur di atas tentang seleksi biru-putih, menunjukkan bahwa dari hasil percobaan tersebut telah menunjukkan adanya keberhasilan transformasi dan ligasi DNA(Sambrook&Russel 2001).

Simpulan

            Kontrol transformasi (hasil transformasi kelompok 5 yang terdiri dari sel kompeten hasil ligasi+LA+AMP+X-Gal+IPTG) menunjukkan semua koloni sel yang berwarna putih. Hal ini menunjukkan bahwa insert berhasil disisipkan (diligasikan) dengan vektor, sehingga gen lacZ-nya akan terdisrupsi (rusak) dan ujung-ujungnya tidak mampu menghasilkan indigo yang berwarna biru, sehingga koloni bakteri akan berwarna putih

Daftar pustaka

Lodish H, Arnold B, Lawrence Z, Paul M, David B. 2000. Molecular Cell Biology. New York: Wh Freeman Company

Pasternak JJ, Bernard RG. 2003. Molecular Biotechnology: Principle and Appplication of Recombinant DNA. Washington DC: ASM Press.

Sambrook J,Russel DW. 2001. Molecular Cloning: A Laboratory Manual 3rd Ed. New York: Cold Spring Harbor Laboratory Press.

Wibowo M. 2002. Tranformasi fragmen DNA kromosom Xanthomonas campestriskedalamEscherichia coliJ Makara Sains6(1): 21-24.

Beda Suka, Cinta dan Kasih Sayang

Dihadapan orang yang kau cintai,
musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah
Dihadapan orang yang kau sukai,
musim dingin tetap saja musim dingin

Hanya suasananya lebih indah sedikit

Dihadapan orang yang kau cintai,
jantungmu tiba tiba berdebar lebih cepat
Dihadapan orang yang kau sukai
kau hanya merasa senang dan gembira saja

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang
kau cintai, matamu berkaca-kaca
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang
kau sukai, engkau hanya tersenyum saja

Dihadapan orang yang kau cintai,
kata kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam
Dihadapan orang yang kau sukai,
kata kata hanya keluar dari pikiran saja

Jika orang yang kau cintai menangis,
engkaupun akan ikut menangis disisinya
Jika orang yang kau sukai menangis,
engkau hanya menghibur saja

Perasaan cinta itu dimulai dari mata,

Sedangkan rasa suka dimulai dari telinga
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang,
cukup dengan menutup telinga.
Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari
orang yang kau cintai, cinta itu berubah menjadi
tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam
jarak waktu yang cukup lama.

“Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta…

Ada perasaan yang lebih mendalam.
Yaitu rasa sayang….

rasa yang tidak hilang secepat rasa cinta.

Rasa yang tidak mudah berubah.
Perasaan yang dapat membuatmu berkorban untuk
orang yang kamu sayangi.

Mau menderita demi kebahagiaan

orang yang kamu sayangi.
Cinta ingin memiliki. Tetapi Sayang hanya ingin
melihat orang yang disayanginya bahagia..
walaupun harus kehilangan.”

**Armen Sulaiman**